Sejatinya kita ini mampu tidak?

Pak, bu, sejatinya kita ini mampu tidak?
Andai digolongkan ke dalam masyarakat miskin, sepertinya tidak pantas. Makanan sehari-hari kita tak melulu telur dan bukan nasi, garam dan kecap. 
Andai digolongkan ke dalam masyarakat kaya, sepertinya tidak pantas. Untuk memenuhi keinginanku untuk membeli baju pun, harus kugunakan dulu uang bulananku yang tak seberapa itu, yang memang dari gaji kalian, tetapi sebaiknya bukan dari uang bulananku untuk membelinya. Aku jadi harus menahan beberapa hari menahan untuk tidak jajan di sekolah. Mereka bilang aku pelit, mau jajan 10 ribu saja mikir-mikir.

Kalau mereka tahu pekerjaan orang tuaku, lebih baik memang tidak usah sedari awal. Ekspektasi mereka agar tak banyak denganku. Agar tak bertanya-tanya dengan jumlah uang bulananku. Kalau perlu, ku jadikan sederhana saja, agar mereka memaklumi kalau uangku memang tak banyak, jadi wajar saja kalau aku menghemat. 

Kalau keinginanku bekerja untuk mengisi waktu luang di hari libur, memang benar. Tapi akhir-akhir ini ku sadari, aku memang perlu bekerja. Pekerjaan memang bukan sebatas mencari uang, memang. Tapi aku perlu. 

Untuk membeli keinginan yang aku mau sedari dulu, bila diingat-ingat pun aku sudah lupa aku mau apa. Jadi sewaktu aku mau membeli pun, tak perlu kalian tanya-tanya untuk apa, aku akan senang sekali kalau kalian tak bertanya-tanya apa gunanya, pun bila mau memberi tambahan uang. 

Tak perlu dikomentarinya aku tentang barang-barang yang baru saja ku beli, yang berakhir dengan aku yang mengeluh uang bulananku habis. Aku tak minta banyak-banyak, pun tak membuat gaji kalian habis juga. Sejatinya, kita ini mampu tidak? Pekerjaan rumah pun aku kerjakan, pernah kalian dengar aku mengeluh? Kalau pernah, tolong maafkan.

Salahku dimana? Adik kedua sudah tak ada pun, kita masih kurang. 

Entah, siapa yang salah kali ini, Tuhan. 

Komentar