ujian kehidupan itu bernama pandemi

Anyway, ini tugas cerpen dari sekolah. Ku upload disini biar ga berdebu di word🤣 Hope u like n enjoy it. Also, sorry gaje :)

____________________________________________

   Selama sekolah, kita banyak belajar dari apa yang guru sampaikan, lalu ujian untuk evaluasi atas apa yang sudah kita dapatkan. Selama pandemi, kebalikannya. Kita banyak ujian dari apa yang Tuhan turunkan, lalu belajar untuk evaluasi atas apa yang sudah kita lakukan. Sekolah bukan pandemi, guru pun juga bukan Tuhan. Rasa-rasanya disuruh belajar pun, kita congkak sekali meminta langsung didatangkan ujian daripada perlu belajar dulu. Sudah sehebat apa kita ini?

____________________________________________

Di suatu sore, ketika matahari perlahan turun ke peraduan

“Iya, nanti kutunggu aja di depan. Jangan lama-lama, keburu seblaknya dingin,” 

“ Ok, tunggu. Mau otw nih.” balas suara di seberang panggilan. Telepon pun terputus.

Dian---temanku--- berencana mampir ke rumah, menerima tawaran mengenyangkan untuk mencicipi seblak yang Ibu buat. Ibuku memang membuka gerai makanan yang bisa dipesan secara online, maka saat ada makanan tersisa, daripada mubazir lebih baik kuberikan saja padanya. Bukan berarti dia jadi tempat sampah, lho.

Dia doyan semua makanan yang kami---aku dan ibuku--- buat, seringkali juga dia menjadi pelanggan terakhir ketika gerai hampir tutup namun perutnya tak berkompromi dengan melakukan demo malam-malam. Jadi ketika aku menawarkan makanan favoritnya secara cuma-cuma, dia tidak mau melewatkan kesempatan ini.

Seblak, martabak, takoyaki, cuanki, bahkan juga minuman infused water yang hanya terdiri dari air putih, lemon, dan juga timun. Katanya, infused water buatanku selalu membuat tenggorokannya merasa terobati setelah makan pedas. Aneh, padahal rasanya sama saja. Sebab doyan segala hal makanan itulah, badannya agak tambun.

Aku berencana menunggunya dengan duduk di teras depan, jadi saat ia datang, aku hanya tinggal jalan kaki kurang lebih 5 langkah saja menuju pagar. Kunyalakan ponselku lalu membuka salah satu aplikasi sosial media. Ada berita apa hari ini? Siapa yang hasil tesnya positif? Kapan bisa sekolah offline? Apa ada info dimana aku bisa vaksin? Huhh, klarikasi lagi, klarifikasi lagi, bosen tapi seru juga kalo disimak sambil ngegosip. 

Scroll, scroll, scroll. Satu postingan membuat mataku terpaku selama beberapa saat. Tertulis kalimat “ Seorang Driver Ojek Online Tertabrak Oleh Supir Angkot, Motifnya Dendam”. Ada-ada saja. Sampai segitunya. Apa tahu namun tak benar-benar tahu, bahwa setiap makhluk memiliki porsinya masing-masing? Porsi rezeki, porsi takdir, bahkan porsi karma. Seperti kata-kata mutiara klise di luar sana, rezeki udah ada yang ngatur. Tapi, saat diri dikuasai emosi negatif, aku tahu menasehati itu rasanya percuma. Saat nasehat melalui perantara manusia tak terdengar layaknya menjadi tuli, mungkin Tuhan perlu segera turun tangan.

Bila sudah begitu, segala akibat buruk itu semua dari Tuhan, kilahnya. Padahal, bisa jadi kita tak tahu, bahkan tak berusaha mau tahu kalau semua yang kita inginkan namun tak baik untuk kita, pilihan ‘ingkar’ dijadikan opsi. Udah dilarang, tetep aja dilakuin. Terdengar familiar sekali kata-kata ini di telinga.

Selama pandemi pun sudah banyak kulihat kriminalitas makin menjadi-jadi. Pencurian, penipuan (Apalagi paling marak saat terjadinya permainan harga masker medis saat sedang langka), dan yang membuat resah ... korupsi bantuan sosial (Bansos). Hanya dipotong beberapa rupiah namun dipukul sama rata bagi semua warga pun sudah banyak sekali hasil dari uang haram itu. Kalau mau traktir bakso Cak To bisa dapet berapa mangkok, ya?, pikirku iseng. Tapi, dosa ah! 

Tak lama kemudian, terdengar suara deru motor yang biasa dikendarai Dian. Segera saja aku langsung bergegas ke depan. Ternyata, itu bukan Dian. Hanya kurir ekspedisi yang mau mengantar paket ke rumah Bu RT. Sering juga Bu RT belanja online. 

“Rani!” sebuah suara memanggilku. Aku menoleh.

Rupanya Zidny, dulu ia sering bermain denganku sewaktu kecil. Sekarang, karena sudah sibuk dengan urusan masing-masing, kami sudah jarang mengobrol. Paling hanya sesekali menyapa saat sedang lewat. 

“Sini! Kamu bawa apa itu? Ada yang order makanan Ibumu lagi?” tanyanya, aku pun mendekat ke arahnya. Sekilas kulihat Zidny sedang berbicara dengan orang lain, namun orang itu sudah pergi. 

“Nggak, ada temen mau ambil seblak. Tadi ngobrol sama siapa, Zid?” balasku.

“Temen siapa? Enak banget dapet gratis. Ngobrol sama Mama, tapi beliau masih ke toko depan gang, beli sambel. Temenin aku dong, udah lama kita nggak ngobrol bareng,” katanya.

“Dian, yang sering kesini pas malem minggu. Kamu pernah liat dia kok,” jawabku.

Kulihat dia hanya mengangguk, sambil menyodorkan rujak. Ternyata, dia memang sedang rujakan bareng Mamanya. Dan, sambel yang dia maksud sedang dibeli Mamanya itu untuk rujak ini. Tapi, aku menolak karena sudah kenyang.

Ping! Hp ku bergetar, tanda ada notifikasi masuk. Ada pesan dari Dian! 

Ran, aku bakal agak telat. Tunggu, ya, habis ini nyampe kok. Ciao! :)

“Hihh, Dian yang itu? Sering banget kulihat. Ngapain ke rumahmu? Minta makan? Kok kayak kurang asupan tapi obesitas gitu, padahal badan udah gede aja. Seumuranmu kan? Udah puber, nggak jaga penampilan, nggak malu apa ya? Jilbabnya itu juga, agak kumal. Daripada beli makanan, mending uangnya dibeliin jilbab. Banyak kok, dijual murah di toko besar. Kalo aku jadi kamu sih, malu jadi temennya,” Deg! Walau ucapannya bukan untukku, tapi akan sakit sekali kalau dikatakan langsung pada Dian. 

“Nggak minta makan kok, dia emang suka dateng, masa ada orang bertamu nggak dikasih suguhan? ” belaku.

“Iya, artinya cari peluang kan? Ngemis tapi malu buat kasih tahu, gengsi,” Zidny masih ngotot pada opininya tentang Dian.

“Dia nyaman pake baju apa yang dia mau dan suka, baju kan nggak harus selalu beli terus,”

“Coba kamu beliin aja gitu, sekali-kali,”

“Selalu nolak. Katanya pakaian yang dia pake masih bisa dipake kok,”

“YA IYALAH, KAN EMANG SEBENERNYA NGAREP MAKANAN, BUKAN UANG. LAPEEERRR MULU BISANYA. CEWEK KOK RAKUS----“ ocehan Zidny terhenti ketika kulihat seseorang datang ke arah kami.

“Assalamualaikum, eh, ada Rani,” itu suara ayah Zidny. Aku dan Zidny serempak menjawab salam.

“Lho, Pa? Kok udah pulang, motornya kemana? Eh, ini kenapa tangannya berdarah? Aduhh, kok bisa gini?” Zidny kelabakan meliha tangan ayahnya yang mengucur darah. Tapi kenapa beliau masih bisa tetlihat baik-baik saja? 

“Nggak papa, biasa, diserempet mobil. Sempat terpental juga, tapi nggak sakit kok. Tadi ada anak seumuran kamu yang bantuin Papa buat baikin motornya yang mogok. Hebat lho, cewek tapi keren gitu bisa paham sama motor. Baik, lagi. Pas mau Papa sodorin uang, dia nolak. Katanya, mending uangnya dikasih buat anak Papa aja. Waduh, kalo dikasih ke Zidny, 1 menit pun habis buat dipake belanja online,” jawabnya, santai sekali. Beliau mencuci tangannya di keran air, lalu segera melepas jaket hijau miliknya. Omong-omong, ayah Zidny adalah seorang supir ojek online. Kisahnya hampir mirip sama postingan yang kubaca tadi, tapi semoga nggak ada yang dendam sama beliau. Ayah Zidny orang baik.

“Terus motornya kemana? “ tanya Zidny. Benar juga. Seperti ada yang hilang. Masa berangkat naik motor, pulang jalan kaki?

“Sama dia dibawa ke bengkel depan situ dulu, sebentar lagi dateng kok. Papa tawarin buat bertamu dulu ke rumah,” balasnya. Aku jadi penasaran dengan perempuan yang dimaksud ayah Zidny. Siapa? 

Tak lama berselang, pertanyaan di kepalaku terjawab. Suara deru motor mendekat ke rumah Zidny. Rasa bingungku hilang seketika ketika kulihat orang yang familiar sekali kulihat. Dian!

“Raniii, seblakku manaaa?” Dasar, masih sempat-sempatnya. Dian bertamu sebentar di rumah Zidny, lalu mampir ke tujuan semula, rumahku. Dia tadi dengerin omongan julid Zidny nggak ya? Aku tahu Zidny keterlaluan, tapi susah sekali menasehati anak itu, sudah menjadi hobinya mengomentari orang lain. Karena itu juga, aku mulai berhenti perlahan berteman dengannya. Ingat kata-kata “Jika kita berteman dengan penjual minyak wangi, maka insya Allah kita juga akan ketularan wanginya”? Aku sedang berusaha menerapkan itu agar tidak menjadi seorang penggosip.

Tapi ketika Dian berkata, ”Aku sama ayahnya denger kok, tadi dia bilang apa. Kami mau masuk kerumah Zidny, tapi urung karena mau denger lebih banyak tentang apa yang dia bicarakan tentang aku. Ayah Zidny baik banget, dia minta maaf sama apa yang anaknya omongin, sekaligus nasehatin aku buat sabar dan nggak dengerin apa yang orang lain lihat tentang kita. Beliau juga janji buat nasehatin anaknya nanti. Nggak ada yang lebih tahu tentang kita, kecuali diri kita sendiri. Makasih ya, udah mau belain aku. Iya deh, besok aku beli jilbab baru sama Ibu. Yang warna lilac biar kembaran! Udah ah, laper. Mana seblak sisanya?” Aku yakin, dia masih Dian yang sama. Nggak baperan dan doyan makan. Dasar Dian.

 

 

 


Komentar